GoldenSky

Oleh : Arie S. Syahputra
Staf Pendampingan Karir di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

Sudah 2 bulan ini bumi Indonesia aktif dibasahi oleh air hujan. Kadang hujan turun sebentar dan bisa hampir seminggu lamanya. Karena banyak manusia tidak bersahabat dengan alam akhirnya banjir pun sering mendatangi kita. Pastinya dampak negatif dari banjir selalu banyak menyentuh aspek kehidupan. Dari sisi ekonomi, khusus di kota kelahiran budayawan Benyamin Suaeb, bisa dipastikan lebih dari 1 miliar kerugian yang diderita warganya akibat banjir yang belum juga surut hingga hari ini. Pertanyaannya apakah sikap saling menyalahkan terlebih dahulu yang kita sampaikan? Apakah kita memilih ‘menyalakan lilin daripada mengutuk gelap’? Atau bersama-sama mencari solusi atas permasalahan tersebut dan bersikap konsisten untuk menjaga alam?

Tulisan ini tidak membahas apa, mengapa dan bagaimana hujan dan atau banjir menghampiri kita. Saya mencoba mengajak melihat hujan dikaitkan dengan motivasi. Seorang sahabat saya ketika dikampus dulu pernah barkata : akan selalu ada pelangi ketika rinai berhenti dan akan selalu ada cerah setelah mendung menutupi kita. Kalimat sederhana dan mudah dipahami. Layaknya ayat-ayat cinta yang ALLOH ta’ala berikan kepada kita : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Asy-Syarh : 5-6). Bila kita renungi, makna ayat tersebut diulang kembali pada ayat ke 6, yang menurut saya hal tersebut menegaskan kepada kita hambaNya untuk bersikap sabar, tidak khawatir dan tawakal kepadaNya.

Inilah satu diantara ‘bahan bakar’ kita untuk menjalankan hidup ini. Kalimat yang pas dijadikan ‘tagline’ hidup bagi para calon pemenang masa depan. Siapa pun Anda dan dari mana pun latar belakang Anda.

Bila kita sudah yakin ayat-ayat tersebut, apa hal berikutnya yang perlu kita persiapkan? Sahabat, inilah jawabannya : “Wahai anak adam luangkanlah waktu untuk ibadah kepadaKu maka aku isi dadamu dengan kekayaan dan aku tutup kekafiranmu. jika tidak maka aku isikan kesibukan dimukamu dan aku tidak menutup kekafiranmu.” HR. Tarmidzi.

Bagi sebagian orang mungkin hadist di atas dianggap hal yang klasik dan ada yang berkata “Ya iyalah kalau ibadah mah”. Kalau kita sudah tahu lalu kenapa sebagian orang masih malas melakukannya? Seperti orang yang mengharap surga tapi ketika ditanya apakah mau meninggal dulu? Sontak mereka yang ditanya kebanyakan diam dan ada yang tersenyum. Padahal untuk masuk surga sudah pasti kita harus melewati proses “hilang” dari bumi ini.

Sahabat sekalian, semoga tulisan ini bisa menjadi renungan berharga khususnya bagi saya. Tetap optimis dan bersabar. Tidak menyerah atas apa yang menimpa. Yakinlah bersama kesulitan ada kemudahan. After the “rain” stopped there was “a golden sky” : setelah masa suram akan selalu ada masa kegemilangan

About the author
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit