Cuplikan Cerita Alumni dalam Buku “Rela Kecebur Demi Bebas Nganggur”

1016616_570813656302818_1516710405_n

Terlahir dari keluarga tidak berada membuat saya harus terbiasa mandiri sejak belia. Saat duduk di sekolah dasar, saya sudah terbiasa mengumpulkan sampah. Sampah-sampah itu saya kumpulkan untuk dijual kepada pengepul. Hasil penjualan digunakan untik membantu meringankan beban orang tua. Cemoohan dari orang-orang di sekitar ada tapi tidak saya hiraukan.

601043_504954536222064_1189856339_n

Dari pemulung saya menjadi tukang ojek di kampung Jaya Mukti di Lebak, Banten. Ini saya lakukan saat duduk di Madrasah Aliyah.  Bukan tukang ojek permanen karena saya hanya memanfaatkan waktu-waktu diluar jam sekolah. Sepeda motor yang dipakai pun bukan sepeda motor saya sendiri. Saya mendapatkan pinjaman dari salah satu tetangga. Selasa tiga tahun, dari 2002 sampai 2004, saya menjadi tukang ojek. Saya berhenti menjadi tukang ojek karena motornya diminta sang pemilik. Selain belajar disekolah formal,saya juga menimba ilmu di pesantren. Biaya selama sekolah saya tanggung sendiri. Berbagai pekerjaan saya lakukan untuk mendapat biaya hidup, salah satunya dengan mengojek tadi. Alhamdulillah, saya bisa menamatkan Madrasah Aliyah pada 2005.

 

Setamat dari Aliyah, saya masuk di sebuah kampus swasta di Banten. Saya hanya bisa bertahan sampai semester tujuh. Dengan berat hati saya mengambil keputusan untuk berhenti kuliah. Sangat pahit karena sisa satu semester lagi saya lulus. Akan tetapi, karena keterbatasan ekonomi yang dialami, saya harus mengundurkan diri.

Keputusan mengundirkan diri itu menjadi titik balik saya untuk menjadi seorang yang mandiri. Sukses karena awalnya tidak memiliki pekerjaan tetap menjadi seorang yang tersibukkan oleh usaha milik sendiri. Saya ingin mengawali usaha dengan modal seadanya. Saya ingin membuka konter pulsa. Saya terinspirasi ketika melihat setiap konter handphone yang selalu ramai.

480635_522143561169828_1331350311_n

Sadar miskin pengalaman, saya sering bertanya kepada pemilik usaha seputar memulai usaha, resiko membuka konter, dan cara mengatasi kerugian. Setelah merasa cukup bekal pengetahuan, “ Sikah Cell” pun saya rintis di Malingping, Banten. Sebuah usaha yang sangat kecil dan tidak banyak orang yang tahu. Penjualannya pun belum mendapatkan untung  besar. Walaupun demikian, ada sedikit pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya dan keluarga sehingga tidak perlu bergantung pada orang lain.

 

Pada suatu hari saat berada di Yayasan Al-Qudwah, Rangkasbitung, saya mendapatkan selembaran untuk mengikuti pelatihan gratis teknisi handphone. Pelatihannya diadakan oleh Institut kemandirian Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Keluarga Muslim City Bank. Kesempatan langka ini tidak ingin saya sia-siakan. Saya segera mendaftarkan diri dan akhirnya berhasil diterima sebagai peserta pelatihan.1011028_572499222800928_953305604_n

Meski diadakannya hanya sebulan, hasil pelatihan yang saya dapat begitu mengesankan. Pengalaman memperbaiki handphone mati sudah pasti saya dapatkan. Kedua, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang berwirausaha dan cara pengelolaannya. Ada hal yang paling menarik bagi saya saat pelatihan kewirausahaan. Saya diminta untuk berkeliling berjualan kerupuk dan air mineral. Ini yang sampai saat ini masih saya rasakan. Mental saya untuk berwirausaha benar-benar tertanam.

1009896_572497362801114_29509888_n

Keberuntungan saya bertambah setelah lulus dari pelatihan saya mendapatkan dana hibah berupa peralatan servis handphone. Usaha saya yang awalnya penjual pulsa, sekarang bertambah fasilitas servis handphone. Tentunya ini peluang bagi saya karena ditempat saya masih jarang ditemukan tempat servis handphone. Saya juga percaya bahwa suatu saat usaha yang masih kecil ini akan membesar sebagaimana impian saya. Alhamdulillah kerja keras dan do’a saya dan keluarga membuahkan hasil, kini saya memiliki 4 konter servis handphone dengan omzet kurang lebih 60 juta per bulan. (Dudin, Alumni Pelatihan Teknisi Handphone Institut Kemandirian Dompet Dhuafa asal Malingping, Banten)

About the author
3 Comments
  1. wardi

    masa allah ternyata sukses tu g gampang tpi ternyata ada orang yang rela kecebur demi ngga nganggur.

    • AdminWeb

      Iya Mas.
      Terima kasih atas kunjungannya….

  2. budiman

    Assalamualaikum wr wb,
    Saya dari anak transmigran di Kalteng, saya ingin ikut pelatihan di IKDD, tapi saya gak punya dana untuk sehari-hari kalau di asrama, cuma ada untuk biaya pergi pulangnya, itupun akan jual kambing… apakah di asrama ada bayarnya untuk konsumsi sehari-harinya?
    Mohon penjelasannya. Tks
    Wassalamualaikum wr wb

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit