hermanInstitutkemandirian.org-Cianjur, itulah kota kecil tempatku dilahirkan 2 Juli 1981 kota yang menjadi kenangan masa kecilku sampai tumbuh kembang menjadi dewasa. Hari-harinya pun biasa saja seperti anak-anak yang lain yakni, sekolah, main, dan ngaji.
Namaku Herman yang sejak kecil bercita-cita ingin menjadi guru, pekerjaan itu mulia menurut hati saya. Keinginan menjadi guru semakin tertanam dijiwaku, apalagi ketika di SD aku dipertemukan dengan seorang guru yang baik, Pak Epe namanya, beliaulah guru pavoritku. Tanpa bosan beliau memberiku semangat agar tetap sekolah, walaupun kondisi orang tua saya serba kekurangan. Mereka hanya petani penggarap sawah yang sewaktu-waktu bisa kehilangan pekerjaanya karena lahan dijual pemiliknya.

Saat di Madrasah Tsanawiyah, aku bertemu dengan seorang guru yang menginspirasiku untuktetap gigih belajar, Pak Umed Supriyadi namanya. Beliau seorang kepala sekolah, guru,orang tua serta motivator terbaikku saat itu. Berkat beliau saya mendapatkan ilmu untuk merencanakan dan membangun kehidupan serta meraih cita-cita untuk menjadi seorang guru. Hanya saja impianku menjadi tidak jelas ketika sebulan menjelang Ujian Nasional musibah besar menimpaku. Ayahku meninggal. Kehilangan seorang ayah bagai kehilangan separuh nyawaku. Ayahlah harapanku untuk bisa membantu mewujudkan impianku, menjadi tulang punggung keluargaku, panutan dan suri tauladan keluarga. Ayah meninggal disaat aku dan keluarga sangat membutuhkan keberadaannya.

Sepeninggal ayah, aku tinggal dengan ibu dan adiku. Hatiku terpukul melihat ibu berjuang membanting tulang untuk menggantikan posisi ayah untuk mencari nafkah. Saya tidak tahan dengan keadaan itu hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak kakak dan paman ikut berjualan bakso keliling di Sukabumi. Aku berprofesi sebagai penjual bakso keliling sekitar satu tahun. Keinginan yang kuat untuk meneruskan sekolah membuatku terpaksa berhenti bejualan bakso keliling. Padahal saat itu, keluarga sangat membutuhkan tenaga dan pikiranku dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak terbayangkan darimana aku harus membiayai sekolah, tetapi kuberanikan diri untuk mendaftarkan diri disebuah sekolah madrasah aliyah di Sukabumi.

Keinginan bisa berpendidikan tinggi dan menghidupi keluarga memaksaku memutar otak untuk memanfaatkan waktu setelah pulang sekolah untuk bekerja. Sayang di Sukabumi tempat aku tinggal kesempatan bekerja paruh waktu seperti di kota besar hampir tidak ada. Akhirnya aku memutuskan bekerja sebagai kuli serabutan, menaikan pasir ke truk setiap pulang dan libur sekolah. Selain pasir, sering juga jadi kuli angkat batu dengan bobot sangat berat, tentunya membahayakan nyawaku, karena sewaktu-waktu bisa terjadi longsor atau tertimpa batu yang jatuh. Alhamdulillah selama 3 tahun aku jalani hidup sebagai kuli kasar. Aku ingin menamatkan sekolah dan menghidupi keluarga dengan sabar. Selama tiga tahun itulah aku tinggal bersama nenek yang harus aku tanggung kehidupannya dan juga menanggung seluruh biaya sekolahku.

herman1

Aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus madrasah Aliyah, namun lagi-lagi tidak ada dana untuk biaya kuliah. Akhirnya aku ikut teman pergi ke Jakarta untuk berjualan donat. Tiap hari keliling dari warung ke warung di jalanan Jakarta untuk menitipkan donat yang saya jual. Tergiur penghasilan yang cukup untuk ukuran seorang pemuda perjaka saat itu, cita-cita kuliahku kandas karena terlalu asyik dengan pendapatanku dari jualan. Selama 7 tahun di Jakarta waktu habis dipakai berjualan donat, brownis dan molen sampai akhirnya menemui titik jenuh menjadi seorang pedagang donat.

Dari pengahsilan donat aku bisa menafkahi isriku yang solehah, darinya lahir seorang anak laki-laki, M. Hafidz Asyairozi namanya. Hafidz adalah buah hatiku , semangatku, dan harapan penerusku. Dalam usia 1 tahun saat ini, ingin rasanya membahagiakan dia. Anaku itu yang mendorong agar aku bisa berubah, menjadi seoarang pengusaha sukses. Jika aku tidak bisa sekolah yang tinggi, biarlah anaku yang meneruskan cita-cita ayahnya menjadi seorang sarjana. Aku memikirkan langkah-langkah kehidupan demi anaku. Terbersit dalam benaku untuk merintis sebuah usaha tetapi terbentur modal dan keterampilan.

Sebenarnya aku sering mengotak-ngatik mesin motor, itu dikarenakan hobi saja yang sebenarnya tidak bisa. Dengan niat kuat akhirnya diberikan kemudahan oleh Allah di pertemukan dengan Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Selesai menjalankan sholat Jum’at, aku melihat sebuah brosur tentang informasi pelatihan gratis di Institut Kemandirian. Mulailah terbuka kembali harapanku untuk berubah. Berbekal informasi dari brosur Institut Kemandirian aku mencoba menelpon Institut Kemandirian dan mendaftar menjadi siswa pelatihan otomotif sepeda motor. Pikirku otomotif adalah dunia yang luas, punya prosfek yang bagus buat karirku dan hobiku dalam memperbaiki sepeda motor.

Alhamdulillah aku bisa ikut pelatihan di Institut Kemandirian selama 3 bulan. Institut Kemandirian memiliki guru-guru yang hebat dibidangnya, ada Pak Budi Santosa dan Pak Abu Amar di otomotif sepeda motor. Disana ada staf manajemen juga motivator yang bisa membakar semangat hingga menggugah hatiku agar bangun dari keterpurukan dan bisa memberikan inspirasi untuk merancang masa depanku. Institut Kemandirian adalah lembaga pelatihan yang sangat bagus untuk aku dan teman-teman, karena tidak hanya mengajarkan keterapilan saja tapi membentuk generasi pemuda yang punya semangat mandiri dan berkarakter.

herman21

Selama belajar menjadi mekanik motor di Institut Kemandirian, siswa juga diajarkan untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu dan berakhlak mulia,memegang teguh disiplin, patuh pada peraturan, amanah, jujur , tanggung jawab , senantiasa menjaga persaudaraan antar mekanik, menjaga kehormatan diri, dan menjungjung tinggi nama baik almamater. Selain itu siswa diajarkan untuk menjadi mekanik yang tangguh, mandiri, professional, santun, dan komunikatif. Alumninya senantiasa harus meningkatkkan kualitas diri dan semangat pantang menyerah untuk mewujudkan cita-cita. Inilah nilai-nilai luhur yang dimiliki dan diajarkan selama mengikuti pelatihan di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa.

Alangkah maha dahsyat management Allah SWT yang dengan kekuasaannya mampu mengumpulkan saya dengan rekan-rekan yang sangat saya banggakan, padahal sebelum ikut pelatihan dimana terbentang jarak yang taramat jauh diantara kita. Secara logika rasanya tak mungkin dapat berkumpul bahkan untuk kenal sekalipun tak terbayang sebelumnya. Tapi inilah ketentuan Allah SWT yang mengharuskan kita untuk bersama-sama menimba ilmu, makan, minum di Institut Kemandirian. Sungguh beruntung seandainya nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Institut Kemandirian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dimana tempat kita bekerja sebagai Ikhtiar, dan beribadah merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan. Semoga Allah SWT meridhoi dan memberkati semua alumni IK pada umumnya dan angkatan 9 Th 2012 pada khususnya.

Alhamdulillah syukur atas nikmat Allah yang tak terbatas. Sungguh sebuah anugrah buatku, lulus dari pelatihan diberi kesempatan magang disebuah bengkel di Bilangan Jagakarsa Jakarta. Bengkel itu akan memberikan pengalaman baru agar aku bisa mengenal bagaimana cara kerja seorang mekanik. Mari kita songsong masa depan yang lebih gemilang, hari esok yang telah menanti aksi nyata dari kita untuk merubah kehidupan kearah yang lebih baik dan lebih bermakna lagi daripada hari ini. Ingatlah ada janji luhur bagi mereka yang mandiri dan tidak menggantungkan hidup dari bantuan orang lain sebagaimana sabda Rosulullah SAW:

“Penghuni sorga ada tiga golongan.penguasa adil, jujur dan amanah, seseorang yang baik hati pada kerabat dan sesama muslim, dan orang yang tak pernah meminta-minta sekalipun keluarganya masih mampu memberikan tanggungan padanya”. (HR. Muslim)

Deretan Semangat Bang Herman  kursus service motor gratis institut kemandirian

About the author
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit