BLOG_Slider_passion

Oleh: Rodiannauli Pane, S.Sos

 Gaji merupakan kesenangan. Namun, seseorang yang mendapatkan passion dalam bekerja, kadang gaji menjadi bukan utama walau yang utama karena yang utama baginya adalah bagaimana menemukan happiness dalam sebuah pekerjaan. Dan semua itu bukan berpangkal dari gaji semata. (penulis, Bandoeng 16032013)

Menjadi karyawan yang disiplin, ataupunn karyawan yang selalu disenangi Bos, bukanlah sebuah tujuan kerja dari seorang karyawan. Pemandangan Asal Bapak Senang (ABS/ gejala kerja didasarkan agar atasan senang) seringkali kita jumpai. Fenomena ini akan menjadi wajar tatkala alasan melakukan hal tersebut lebih disebabkan karena sudah terlalu lama menganggur, takut kehilangan pekerjaan, atau alasan ketakutan bahwa zaman sekarang nyari kerjaan susah. Atau alasan lainnya yang bermuara pada rasa ketakutan dan kekhawatiran terhadap pekerjaan.

Memang alasan tersebut tidak 100 % salah. Apalagi jika yang ditanyakan memiliki posisi sebagai Kepala Keluarga. Namun alangkah bijaknya kita, jika mau merenungi kembali hakikat/filosofi kita dalam bekerja. Islam sebagai agama syamil wal mutakamiil/lengkap dan menyeluruh memberikan arahan kepada setiap muslim untuk selalu bekerja itqan.

Al-Itqan ( Kemantapan atau Perfectness) yakni bekerja secara professional dengan memberikan nilai lebih dan bermutu dari setiap pekerjaan yang dilakukan. (An-Naml;88 dan Al-Baqarah: 263). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan dalam Islam merupakan ibadah yang memiliki nilai lebih dari hanya sekedar gaji. Keprofesionalan selalu meningkatkan kompetensi keilmuan kemudian diiringi dengan adanya kedewasaan dalam bersikap/attitude serta mampu menjaga etika dalam melaksanakan aktivitas kerja dilingkungan social kerjanya.

Al – itqan jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, akan berujung pada tumbuhnya etos kerja seorang karyawan muslim. Hal ini membuktikan kembali kepada kita bahwa pekerjaan adalah sebuah ibadah.

MENEMUKAN PASSION

follow-your-passionPernahkah kita menemukan seorang karyawan berpindah-pindah dalam pekerjaannya dari satu instansi ke instansi lainnya baik dengam cara mengundurkan diri, habis kontrak, maupun di PHK. Terlepas dari itu semua, kadang seseorang keluar dari sebuah instansi dengan beberapa alasan berikut diantaranya yakni lebih disebabkan karena menginginkan gaji yang layak, tidak suka dengan suasana lingkungan kerja, hingga tidak cocok dengan atasannya sendiri. Namun alasan yang paling tepat jika seorang karyawan keluar dari sebuah pekerjaannya adalah karena tidak mendapatkan passion dalam pekerjaan yang ditekuninya.

Seseorang yang berpindah kerja ke instansi lain karena alasan passion, maka seseorang tersebut telah berhasil menemukan ruh dalam menjalani aktivitas kerjanya. Karena passion tidak jauh dari sebuah ruh yang diarahkan pada kepemilikan/memiliki/menjiwai dari sebuah perkerjaan/ segala hal yang menggugah minat pribadi. Artinya, ketika ruh telah diraih, biasanya orang seperti ini tidak akan takut menjadi pengangguran, tidak takut gaji kecil, bahkan tidak takut akan di PHK. Karena baginya bahwa sebuah pekerjaan merupakan karir yang penentuan maju atau tidaknya ada ditangan kita sendiri. Karena seorang yang menemukan passion sangat memahami bahwa pekerjaan merupakan karir  bukan sekedar job.

Hal ini jelas berbeda kalau karir mengungkap urusan passion, tujuan hidup individu, values, ketercapaian dan happiness. Sedangkan job lebih banyak bicara soal tujuan perusahaan, job description, lingkungan kerja dan kompensasi. Jika passion telah dipahami, maka seseorang bekerja akan selalu penuh makna  karena setiap rangkaian pekerjaan yang dikerjakan, dapat dimaknai yang mendasar pada ruh terdalam dari sebuah passion. Sehingga harapan kehidupan akan tetap selalu survive dalam kondisi apapun.

Kondisi tersebut, memberikan makna kepada kita bahwa passion bukanlah hobi. Dan hobi bukanlah passion. Bahkan menurut Rene Suhardono dalam bukunya Your Job is Not Your Career menuliskan bahwa PASSION is things that you really really love doing. You passion is your strength. And your strength is NOT about what you’re good at. It is about what you enjoy the most. Menurutnya mencari passion tidak seperti mencari benda hilang yang terselip entah dimana. Passion kita sudah ada di dalam diri kita sendiri. It is within you. It is your uniqueness.

Dengan kata lain, bahwa passion tidak perlu dicari namun sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Kita dapat mencoba dengan menjadikan diri terbuka untuk tahu, merasakan, dan jujur mengenai segala hal yang dikerjakan membuat hati kita lega, lepas dan gembira. Selain itu, kita dapat melupakan sejenak soal uang, jabatan dan atribut lain dalam perkerjaan. Karena itu hanya akan memperumit keadaan. It’s not what you think you will like. It’s all about what you feel, when you do things. Menurut ahli passion Rene Suhardono secara singkat, passion adalah segala hal yang kita sukai atau minati sedemikian rupa sehingga kita tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya. Sedangkan hobi merupakan sebatas kesenangan saja tidak ada ruhnya.

Jika passion sudah ditemukan, maka secara otomatis di dalamnya akan mendapatkan dua unsure yakni PLEASURE (kenikmatan) dan MEANING ( makna). 2 unsur ini lah yang menguatkan alasan mengapa sesorang harus menemukan passionnya dalam bekerja.

HAPPINESS

Kebahagiaan merupakan nilai yang selalu dicari oleh seseorang dalam kehidupannya. Hal ini wajar sebab kebahagiaan akan selalu membawa energy positif seseorang dalam menjalani kehidupannya. Namun, unsure kebahagiaan ini ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Untuk memunculkannya memerlukan pemahaman integral terhadap seluruh unsure dalam setiap diri kita. Menurut Profesor R. Ornstein dalam bukunya The Psyccology of Consciousness bahwa otak memgatur semua fungsi tubuh bahkan otak mengendalikan perilaku kita yang paling primitive-makan, tidur, menjaga agar tubuh tetap hangat. Selain  itu otak bertanggungjawab untuk kegiatan yang paling canggih seperti penciptaan peradaban, music, seni, ilmu dan bahasa. Hal ini memberikan gambaran jelas kepada kita, bahwa otak memiliki peran yang menakjubkan dalam menghadirkan suasana hati dan arah kehidupan seseorang.

Asumsi ini, menjadi rujukan penting untuk seseorang yang akan memulai bagaimana menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan kerja. Kuncinya adalah memahami proses kerja otak. Karena gagasan setiap manusia tidak semata-mata jatuh dari langit. Gagasan kebahagiaan datang dari manusia itu sendiri. Karena manusia membuat perangkat lunak dan kemudian membuat produk. Dan kebahagiaan adalah produk dari hasil pemikiran otak kita.

Untuk memudahkan dalam memetakan kebahagiaan dalam unsure kekuatan dari sebuah passion, mari kita urai satu persatu. Pertama PLEASURE (kenikmatan yang mengarah pada kebahagiaan). Unsure ini memberikan gambaran bahwa sebuah pekerjaan harus mendapatkan kenikmatan bukan sekedar dinikmati. Sebab secara bahasa dinikmati terkesan terpaksa untuk menyukai tetapi kalau kenikmatan, bahwa seseorang dengan penuh kesadaran sangat mudah untuk menyelami warna warninya sebuah pekerjaan karena kenikmatan dalam sebuah pekerjaannya telah berhasil menggugah minat pribadi.

Hal ini sangat berbeda dengan seseorang karyawan yang menjalani perkerjaan dengan dinikmati semata. Maka sudah dapat dipastikan warna warni/ tantangan dalam sebuah pekerjaan akan menjadi sebuah hal yang dipaksa untuk menyukai karena menyelaminya tanpa ruh terdalam atau pekerjaannya tidak bisa menyentuh /menggugah minat pribadi.

Unsure kedua dalam passion adalah MEANING ( makna). Unsure ini memberikan penjelasan bahwa seseorang karyawan setelah mendapatkan kenikmatan mesti menemukan sebuah makna dalam menjalankan aktivitas. Makna dalam hal ini bisa berupa nilai manfaat dalam sebuah pekerjaan yang dihasilkan.

Jika unsure pleasure dan meaning sudah dapat dtemukan dan direalisasikan dalam suasana pekerjaan kita, maka disanalah muara kebahagiaan dapat ditemukan. Karena syarat kebahagiaan dalam pekerjaan adalah pleasure dan meaning.

FULFILLMENT

Fulfillment adalah tujuan karier selain happiness. Secara harfiah fulfillment bisa diartikan sebagai kepuasan, ketercapaian, kelegaan atau kelengkapan dalam berkarya. Menurut pakar passion Rene Suhardono bahwa dalam beberapa kondisi seseorang bersusah payah dalam sebuah pekerjaan lebih didasarkan karena ingin mendapatkan kesuksesan. Penggunaan kata sukses ini seringkali tanpa diimbangi oleh pemahaman maknanya bagi si pengucap. Seperti sukses yang diartikan dengan adanya ketenaran, power, prestise dan mendapatkan jabatan strategis.

Hal ini jelas sangat berbeda dengan fulfillment yang lebih menitikberatkan kepada proses seseorang dalam bekerja yang mendapatkan kepuasaan dalam sebuah karya. Artinya pekerjaannya dapat memberikan nilai lebih untuk diri dan lingkungannya. Dengan begitu, berarti fulfillment tidak ada hubungannya dengan uang, Orang yang semata mengejar uang dalam pekerjaan seringkali adalah pribadi yang berpikiran pendek, transaksional dan tidak menyenangkan. Sehingga penekanannya ada pada apa yang kita rasakan dan apa yang kita anggap penting dalam hidup.

Akhir dari passion

Beberapa uraian tulisan diatas, mudah-mudahan dapat memberikan ruang terbuka bagi cara berfikir kita terhadap filosofi dalam menekuni pekerjaan. Konklusinya adalah bahwa pekerjaan merupakan bagian dari karier dan bukan penyelesaian sebuah jobdesk. Karena karir seseorang dapat menemukan kebahagiaan sedangkan jobdesk hanya sebatasa rutinitas sebuah pekerjaan.

Seorang yang berkarir sejati, akan selalu mencari muara kebahagiaan dalam pekerjaan. Sebab ketika berhasil memahami dan menemukan passion, tujuan hidup, nilai-nilai kehidupan, dan motivasi, maka unsure fulfillment (ketercapaain/kelegaaan) akan ditemukan. Sehingga titik tekan kebahagiaan dalam sebuah pekerjaan bukan pada seberapa besar gaji atau fasilitas yang diperoleh dari pekerjaan semuanya lebih mendalam yakni menghadirkan passion dalam pekerjaan.

Unsure Passion akan menghantarkan seseorang melakukan proses internalisasi terhadap tanggungjawab atas karirnya yang sedang dijalankan. Ini berarti pula bahwa karir kita bukan tanggungjawab atau pun dalam kuasa atasan kita. You are responsible for you own career. Karir kita ada pada bagaimana memiliki tanggungjawab dalam menghadirkan passion dalam memulai sebuah pekerjaan. Sehingga rasa tanggungjawab untuk mendapatkan hasil terbaik dari sebuah pekerjaan muncul dari rasa tanggungjawab diri dari setiap pekerja bukan karena instruksi atasan. Pada akhirnya, penemuan passion ini akan berujung pada semangat etos kerja seorang muslim serta nilai tanggung jawab profesionalitas (itqan) sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S An-Naml 88.

Penulis adalah Supervisor  & Training External division Institut Kemandirian Jakarta.

About the author
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit