suami-istri

suami-istri

“Punggung dan kakiku pegal-pegal, kepalaku terasa pusing” Keluh MIana pada Irvan, suaminya yang sedang membaca Koran. Belum sempat Irvan memberikan jawaban, Miana yang tengah hamil 6 bulan kembali bertanya, “Mas, perutku semakin membesar ya? Aduh rasanya kulit didaerah perut ini semakin mengencang. Guratan juga bermunculan. Berbahaya nggak sih mas?”

Sejak Irvan menghentikan kegiatan membaca Koran. Diamatinya wajah sang istri yang duduk disampingnya. Dalam hati Irvan berkata, “istriku tengah mengandung anak kami. Sehatkah ia selama menjalani kehamilan ini? Apa yang dapat aku lakukan untuk mengurangi ketidak enakan yang ia alami selagi hamil ini?”
Tanpa berpikir panjang, Irvan lagsung mencium dan mengelus-elus perut Miana yang kian membesar. “Sayang! Jangan khawatir ya? Nanti kita konsultasikan apa yang kamu rasakan ini pada dokter kandungan kita. Aku akan selalu ada disampingmu”. Hibur Irvan dengan nada mesra. Ucapan Irvan ini menyejukan hati Miana yang dilanda kecemasan tak menentu.

Memahami Kebutuhan Istri

Acapkali istri y ang tengah hamil mengalami perubahan sikap. Misalnya, sebelum hamil, istri tergolong wanita yang tidak mudah lelah dalam beraktivitas. Namun disaat hamil, ia mudah lelah, merasa sakit dan memrlukan pendampingan suaminya.
Sebenarnya, perubahan sikap ini bukan tanpa sebab. Kondisi tubuh saat hamil yang mengakibatkan rasa tidak nyaman. Semisal, mengencangnya payudara, mual ataupun pusing yang dirasakan sejak awal kehamilan. Belum lagi perubahan emosi. Keadaan tersebut cukup mengganggu istri yang tengah hamil.
Perasaan tak tentu ini disebabkan oleh perubahan hormon akibat kehamilan, ditambah perasaan cemas dan takut terhadap kondisi janin, serta perubahan peran ketika menjadi ibu. Semua ini bercampur jadi satu dan membuat seorang calon ibu sering merasa tak menentu, merasa lelah berlebihan ataupun kehilangan keinginan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Keadaaan seperti inilah yang terkadang membuat istri membutuhkan perhatian lebih dari suaminya.
Walaupun demikian, kebutuhan akan perhatian yang lebih besar dari suami tidak begitu saja mudah diekspresikan oleh istri yang tengah hamil. Bisa jadi istri menginginkan suaminya memahami kebutuhannya tanpa harus diberitahu. Namun bisa pula istri merasa sia-sia saja berbagi rasa dengan suaminya, karena menurut pandangannya, suami sebagai seorang laki-laki tidak pernah bisa merasakan apa yang dialami oleh seorang wanita hamil.

Suami Turut Merasakan

Memang tidak semua suami cepat tanggap terhadap apa yang tengah dirasakan oleh istrinya yang tengah hamil. Terutama para suami yang menganggap kehamilan sebagai suatu peristiwa yang alamiah yang harus dialami oleh wanita dan tak perlu terlalu dicemaskan. Namun sebagian suami memiliki kepekaan perasaan yang sejalan dengan perasaan yang tengah dialami oleh istrinya.
Bahkan, karena begitu pekanya perasaan para calon ayah ini, mereka seringkali menunjukan gejala-gejala seperti istrinya yang sedang hamil; seperti kram pada kaki, mual-mual, hingga mengidam yang kadangkala melebihi apa yang diinginkan sang istri.
Selain itu, bisanya, para suami yang akan menjabat peran baru sebagai seorang ayah, juga merasa bimbang terhadap kemampuan diri mereka dalam menjalankan peran ayah yang baik bagi buah hatinya. Belum lagi keraguan terhadap kemampuan diri untuk memenuhi kebutuhan materi si kecil.
Semua ini menjadikan perasaan suami dimasa penantian ini tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh istrinya. Perasaan gembira dan cemas melebur menjadi satu.

Pentingnya Peran Suami

Terlepas dari ada atau tidaknya kegalauan, para suami diharapkan terus mengayomi istrinya yang tengah hamil. Suami dapat berinisiatif untuk terlibat dalam proses kehamilan istri. Semisal mengajak istri menceritakan perasaan yang dirasakannya. Baik rasa kesal akibat kelelahan, kegembiraan yang muncul karena gerakan si kecil mulai terasa, maupun antusiasme yang timbul setelah melihat baju-baju mungil yang dipajang di took perlengkapan bayi.
Suami dapat pula berusaha mengurangi ‘penderitaan’ istri tercinta saat menjalani kehamilan ini. Anda dapat memijat ringan bagian kaki, mengusap-usap punggung yang terasa pegal atau mengelus-elus kepala istri dengan lembut.
Selain itu suami dapat pula mengajak istrinya sama-sama mengungkapkan harapan maupun keinginan dalam menjalankan peran baru sebagai orang tua kelak. Jalinan komunikasi yang terbuka antara suami dan istri akan membuat istri merasa nyaman dengan kehamilannya. Sikap suami yang senantiasa siap membantu istri, berbagi dengannya, dan juga memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan istrinya, turut pula membuat istri merasa nyaman dengan kehamilannya.
Ini dapat menjadi dasar yang baik bagi pembentukan keluarga dan juga dapat menjadi perekat Anda berdua dalam menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan pengasuhan si kecil.

[Cherry Riadi Lukman] [Suyana Smart]