sukses

Oleh: Rodiannauli Pane S.Sos

Setiap kesuksesan datang dari hati yang sukses. Dan setiap hati yang sukses selau datang dari keberhasilan diri dalam memimpin hati menjadi sebuah pergerakan. Sehingga pergerakannya menjadi lebih bermakna dan menginspirasi siapa saja yang menginginkan kesuksesan. (Karawaci, Penulis awal 2013)

“ saya tidak mau menganggur lagi, saya ingin lebih mandiri”. Itulah rata-rata alasan yang sering disampaikan oleh sebagian besar peserta Institut Kemandirian Dompet Dhuafa (IK-DD)  Jakarta. Mereka memiliki harapan besar bahwa sepulangnya dari menuntut ilmu di IK DD dapat menjadi lebih mandiri atau minimal status pengangguran tidak melekat lagi pada diri mereka.

Impian besar tersebut, tentu menjadi akan kabur maknanya jika tidak diiringi dengan niat kuat untuk mandiri. Artinya, Institut Kemandirian hanyalah sebuah lembaga yang mewadahi dan berusaha untuk memberikan pembekalan dan motivasi serta pendampingan dalam merubah setiap diri kita. Namun kemudian setelah lulus, peserta dapat mandiri itu kembali pada peserta sendiri dalam merancang kehidupannya.

Inspirasi Kesuksesan

Kesuksesan tidak dapat diraih dengan bergantung pada orang lain/lembaga. Siapapun yang ingin sukses berawal dari bagaimana mampu memimpin keinginan hati berbuah menjadi sebuah pergerakan produktif untuk menghasilkan kesuksesan.

Masih ingatkah kita kesuksesan seorang Habibie untuk menjadi seorang teknokrat. Beliau melangkah ke Jerman untuk satu cita-cita agar Indonesia menjadi Negara yang sejajar dimata Internasional. Perjuangan dan perngorbanannya belajar ke Jerman ternyata diawali dari hati yang kuat untuk menjadi yang terbaik. Apa pun  yang dilakukakannya dilakukan dengan tekun. Setiap cobaan bahkan sampai meremehkan kemampuan Habibie sebagai orang Asia di jerman sempat diragukan oleh sebagian professor tempat dia belajar. Tetapi beliau meyakinkan pada hatinya, bahwa dirinya mampu dan bisa sehingga motivasi kuat inilah yang membuat dirinya terus berkarya sehingga di tahun 1995 beliau membuat pesawat terbang pertama Indonesia yakni N250. Akhirnya pergerakan karyanya menjadi sebuah inspirasi bagi bangsa Asia lain untuk bersama-sama dapat menunjukkan pada dunia Internasional bahwa orang Asia gterutama Indonesia mampu memberikan kontribusi terhadapa peradaban dunia. Awalnya boleh jadi orang bingung dengan nama Negara Indonesia bahkan dipeta dunia pun tidak terlalu besar kelihatannya karena Negara berpulau-pulau. Tetapi dari kekuatan hati, yang membuahkan pergerakan produktif, akhirnya orang mencari tahu dan tahu bahwa Indonesia sebagai Negara yang kepulauan dapat memberikan inspirasi untuk suatu nama perubahan.

Apa yang dilakukan oleh Bacharudin Jusuf Habibie yang pernah menjadi Preseiden RI pada masa krisis moneter ini, membuktikan bahwa kemandirian hanya dapat dilakukan dengan adanya ketekunan. Bukan dukungan Negara, dan bukan pula dukungan universitas dia belajar. Bahkan ketika beliau akan menciptakan gerbong kereta api tercepat di Jerman, kemampuannya dipertanyakan. Tetapi beliau terus mampu memimpin kedalaman hatinya untuk tetap menghasilkan dan menghasilkan pergerakan. Seolah ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa bekerja dan bekerjalah maka hasil pun akan mengikuti ketekunan kita. Dan itu semua sudah dibuktikan oleh seorang Habibie. Sehingga semua orang pun bangga atas kemampuannya dalam menginspirasi kesuksesan.

Kesuksesan dipersimpangan Jalan

Kita ingin sukses, tapi rasanya tanggug bener ya..Lho Kok… Kesuksesan yang nanggung biasanya datang bukan dari hati yang terdalam. Jika kita sungguh-sungguh ingin sukses, maka kesuksesan kita tidak mesti didompleng oleh ketenaran dari universitas/lembaga tempat kita belajar. Artinya sukses atau tidaknya kita dalam membawa perubahan itu tergantung bagaimana kita bisa berfikir tetap kreatif dalam mengarungi kehidupan. Sehingga tetap bisa survive dengan kreatifitas kita.

Lihat saja Dompet Dhuafa bisa tetap survive sampai sekarang, dikarenakan kreatifitas dari para pengelola amil zakat dalam mendistribusikan dana-dana ZISWAF dengan kreatifitas program pemberdayaan yang produktif. Apa jadinya, jika lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa hanya mengandalkan pembagian zakat fitrah dimasa hari raya Idul Fitri, maka label Islam sebagai agama Rahmatan Lill alamiin tidak akan pernah terasa oleh siapapun bahkan untuk umat Islam sendiri.

Untuk itu, kesuksesan dapat dikatakan kesuksesan dipersimpangan jalan ketika kesuksesan kita bergantung pada orang lain. Jika ingin mandir, makan mandirilah dalam mengelola kemandirian kita.    Ada beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan, agar kesuksesan kita tidak dipersimpangan jalan, yakni

  1. Jadikan setiap langkah kaki kita menuju perubahan sebagai ibadah.
  2. Ikhlas dalam bekerja yakni memotivasi diri untuk mandiri bukan karena alasan mendapatkan uang semata tetapi dalam rangka mendapat mardatillah dari Allah SWT (Q.S Al-BAqarah; 207-265)
  3. Harus dalam koridor yang benar. Artinya apa pun yang dilakukan tetap terjaga keamanahannya dalam mencapai kesuksesan dengan tidak bertentangan secara muamalah (ibadah umum) dan tetap menjaga tuntunan Rasulullah dalam pekerjaan ubudiyah (ibadah nkhusus) sehingga tetap berada pada jalur yang di ridhoi Allah.(Q.S Ali – Imran 31 ; Al-HAsyr:10)
  4. Ash-Shalah yakni pilihlah pekerjaan yang baik dan bermanfaat serta memiliki nilai lebih yang dapat meningkatkan derajat umat sehingga dapat mengantarkan umat Islam menjadi lebih baik lagi dalam peradaban. (Q.S Al-An’am 32)
  5. Al-Itqan ( Kemantapan atau Perfectness) yakni bekerja secara professional dengan memberikan nilai lebih dan bermutu dari setiap pekerjaan yang dilakukan. (An-Naml;88 dan Al-Baqarah: 263).
  6. Al-Mujahadah yakni kerja keras dan optimal (Q.S Ali-Imran 142; Q.S Al-Maidah 35; Q.S Al-Furqaan 25 dan Q.S Al-Ankabut 69)
  7. Tanafus dan Ta’awun yakni berkompetisi dan tolong menolong (Q.S Al-BAqarah 108)

Selamat Tinggal Kesuksesan di Persimpangan Jalan

Seorang alumni IK yang sukses adalah yang dapat memaknai bagaimana seharusnya seorang muslim itu bekerja. Setiap apapun yang dillakukan oleh seorang muslim adalah bagian dari ibadah. Untuk itu sudah sepantasnya kesuksesan yang kita raih mestinya bersandar pada nilai-nilai perubahan yang bersandar kepada kebenaran hakiki. Karena etos kerja seorang muslim lebih dari hanya sekedar menghargai waktu, atau tidak hanya sekedar urusan mendapatkan uang tetapi bagaimana pekerjaannya bisa menginspirasi banyak orang  dengan pekerjaannya dapat mendatangkan keberkahan pada diri, keluarga dan lingkungan sosialnya. Karena hakikatnya etos kerja seorang muslim langsung berhubungan dengan keimanan kepada Allah SWT.

Penulis adalah Supervisor pendampingan dan exhouse training Institut Kemandirian Jakarta.

About the author
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit