Dua tahun yang lalu, Tuhan mempertemukan saya dengan Agus dalam sebuah seminar. Berbeda dengan orang-orang lain yang biasa saya temui, Agus adalah orang luar biasa.

Dua tahun yang lalu, Tuhan mempertemukan saya dengan Agus dalam sebuah seminar. Berbeda dengan orang-orang lain yang biasa saya temui, Agus adalah orang luar biasa.

Bicaranya gagap. Seringkali ia butuh waktu cukup lama untuk mencerna ucapan lawan bicaranya. Suara yang keluar dari mulutnya, seringkali tidak dimengerti oleh orang-orang yang baru kali itu berkomunikasi dengannya. Bisa membayangkan, betapa sulitnya berinteraksi dengan Agus.

Agus pernah sekolah sampai kelas 1 di SMA sekolah Luar Biasa. Tapi bukan karena itu saya menyebutnya sebagai orang luar biasa. Ia keluar dari sekolah karena hambatan biaya. Ia anti meletakkan tangannya di bawah, walaupun banyak orang melakukannya untuk terus sekolah.

Ia keluar dari sekolah, dan mulai mencoba mencari uang. Mulailah ia berjualan buku-buku yang tidak banyak jumlahnya, dari satu mesjid ke mesjid lain. Tak jarang, ia harus diusir dari tempatnya berdagang. Rugi, dagangan nggak laku, hambatan komunikasi, diledek konsumen dan banyak cobaan lain, biasa dialaminya. Ditipu, adalah pengalaman kesehariannya. Naudzubillah. Masih ada orang yang tega melakukannya pada orang seperti Agus.

Dari jualan buku, mata dagangannya bertambah. Ada tasbih. Ada parfum. Dan lapaknya pun bertambah lebar. Kini, ia sudah punya lapak permanen yang ditempatinya setiap hari libur di bilangan Kalibata. Dalam sehari, omsetnya mencapai delapan ratus ribu rupiah. Ini lah penyebab, saya menyebutnya luar biasa. Di luar sana, begitu banyak orang yang sempurna fisiknya, tapi mentalnya keropos. Cengeng. Betapa mudahnya mereka menyerah karena satu dua hambatan. Beda dengan orang luar biasa seperti Agus, yang seolah cuma tahu sebaris kata. Never give up!

Ketika terjadi gempa di Padang, Agus mengirimi saya SMS. ‘Agus mau ke Padang ya’. Dengan bantuan PT Pelni, Agus pun berangkat ke Padang, bersama tim dari Institut Kemandirian. Awalnya, saya khawatir ia bakal jadi beban tambahan bagi tim.

Kekhawatiran itu tidak terbukti. Tangannya ringan membantu, pekerjaan-pekerjaan yang bisa ia lakukan. Ia seolah tidak pernah kehabisan tenaga. Dua pekan di Padang untuk kerja sosial, ia kembali ke Jakarta. Kembali menekuni aktivitas rutinnya, berdagang.

Pekan ini, saya mendampinginya di salah satu acara di sebuah televisi swasta. Satu momen mengharukan adalah ketika Agus, dengan suara penuh jeda, menjawab pertanyaan sang host, ‘Cita-cita Agus mau jadi apa?’

Tidak ada briefing sebelumnya, Agus harus jawab apa. Semuanya dilepas begitu saja. Dan ia pun menjawab, ‘jadi … pengusaha … sukses …’ Katanya terbata-bata. Buklan nervous karena sorotan kamera, tapi memang begitu lah caranya berbicara.

Memang tidak ada suara tangis. Tapi saya melihat banyak mata orang-orang yang menyaksikan momen itu, para mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Jakarta, juga termasuk sang host, Andre Djarot, berkaca-kaca. Di saat banyak orang kehilangan keberanian bermimpi soal masa depan, Agus dengan percaya diri yang tinggi melakukannya.

Teruskan usahamu, Gus. God bless you.

 

Zainal Abidin

Ketua Tim Pendirian Akademi Kemandirian

www.zainalabidin.net

(Telah dimuat di Harian Semarang, 22 Juli 2011, rubrik Inspirasi)

About the author
2 Comments
  1. Memang kita haru mencontoh mental pengusaha seperti Pak Agus, kalau ingin berhasil, Bravo Pak Agus..

  2. Memang kita haru mencontoh mental pengusaha seperti Pak Agus, kalau ingin berhasil, Bravo Pak Agus..

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit