Baru saja seorang teman saya sms…”Alhamdulillah tembus juga pasar Malaysia dan Siangapura” turut senang membacanya.
Teman saya ini adalah seorang Ibu rumah tangga yang disela kesibukannya mengasuh buah hatinya masih berkutat dengan barang dagangan yang dipajang di beberapa rak dekat kamar tidurnya. Beliau tidak memiliki toko untuk berjualan, namun memiliki situs maya untuk menjajakan barang dagangannya itu, beliau juga baru mulai asyik dengan kesibukannya jika putra putrinya sudah terlelap di peraduannya, sehingga tugas-tugas rumah tangga selesai dan pekerjaan bisnis pun lancar.
Hmmm…asyik sekali mendengarnya…pengin rasanya menjadi mompreneur seperti itu…cukup berbisnis dari rumah untuk menghasilkan pundi-pundi uang, tanpa terkena macet, tanpa stress di jalan dan bisa menjalankannya kapan pun tanpa tekanan dan paksaan, menghemat biaya transportasi, dan banyak keuntungan lain menjalankan bisnis dari rumah. Hampir semua orang menginginkan kondisi demikian, berkantor di rumah tapi tetap memiliki penghasilan yang sangat cukup. Rumahku adalah Kantorku..kantorku adalah rumahku….
Tapi disisi lain, Luna teman saya baru saja mengeluh, bahwa dia sedang bete habis setelah sebulan memutuskan meninggalkan kantornya dan menjalankan bisnis dari rumahnya sendiri. Luna merasa jenuh dan kesepian di rumah, karena biasanya setiap hari bisa bertemu rekan-rekan kerja di kantornya. Lho kenapa bisa berbeda? Yang satu merasa bahagia, sedangkan satu lagi merasa bete. Tuhan memang Maha adil, menciptakan semua berpasangan, ada hitam ada putih, ada perasaan senang ada perasaan sedih. Itulah indahnya kehidupan.
Memutuskan berkantor dan berbisnis dari rumah tentunya menjadi impian bagi banyak orang, dan ini memerlukan pemikiran yang matang. Apapun yang terjadi setelah keputusan diambil adalah resiko yang harus diterima dan siap dihadapi. Biasanya diawal perjalanan memulai bisnis atau bekerja di rumah ada beberapa hal yang kurang menyenangkan ditemui karena harus mengubah kebiasaan sehari-hari dan berbeda lingkungan kerja, seperti perasaan terisolasi dari lingkungan kerja, kesendirian, pendapatan tidak teratur, jenuh bekerja ditempat yang sama,dianggap tidak professional, perasaan bete dan yang tersulit biasanya mengatur waktu antara bisnis dan keluarga.
Lalu bagaimana menyikapinya? Biasanya seseorang lupa dengan manajemen waktu, banyak yang berfikir waktunya sudah habis untuk urusan rumah tangga sementara bisnis belum disentuh atau waktu yang tercampur aduk sehingga saat mengerjakan bisnis terganggu oleh anak-anak. Untuk itu cobalah dengan membagi waktu sebagai berikut :
1. Waktu untuk bisnis
Cobalah mencari waktu yang tepat, kapan Anda menjalankan bisnis agar tidak mendapat gangguan anak-anak, Anda yang tahu kapan waktu yang tepat tersebut, misalnya saat buah hati sedang tidur, sedang bermain dengan pengasuh atau suami Anda. Bukankah alasan untuk menjalankan bisnis dari rumah agar Anda dekat dengan anak-anak? Nah…oleh karena itu jangan sampai waktu yang ada tercampur baur sehingga Anda tidak fokus mengerjakan bisnis juga tidak fokus dengan anak-anak Anda.
2. Waktu untuk keluarga
Sebagai orangtua, apalagi seorang Ibu rumah tangga, kewajiban mengurus dan mengatur rumah tangga adalah kewajiban utama dan menjadi prioritas, Namun bisnis harus tetap jalan juga sebagai wadah aktualisasi diri dan juga menambah penghasilan. Saat –saat anak membutuhkan kehadiran Anda, Anda pun ada disana. Itulah indahnya bekerja dari rumah, sehingga Anda harus membuat aturan main agar waktu untuk keluarga tidak mengganggu bisnis Anda.
3. Me Time atau waktu untuk diri sendiri.
Nah…untuk yang satu ini biasanya sering dilupakan, sudah asyik berbisnis, ngurus keluarga…lupa dengan diri sendiri. Padahal waktu untuk diri sendiri ini sangat penting. Penting untuk Anda bertemu teman, bersosialisasi, memanjakan diri dan juga relaksasi. Luangkan waktu untuk sekedar pergi ke bioskop, makan di luar atau bertemu dengan teman lama untuk bertukar pikiran agar Anda tidak jenuh dengan aktifitas Anda yang baru.
Jika Anda pandai mengatur waktu Anda, InsyaAlloh semua berjalan lancar, nggak ada lagi kata bête, nggak ada lagi rasa jenuh, ngga ada lagi gangguan anak-anak saat berbisnis. Yang ada adalah..”Berbisnis dari rumah???….Yes…Asyik….!” Selamat berbisnis.

About the author
3 Comments
  1. ana

    adakah di indonesia yang mengatur regulasi “TRUSTED” Online Store kaya di Luar negri… minimal memberi sertifikat “Bisa di percaya” dan klo bisa ga juga kaya MUI yang pemberian sertifikat halalnya buat yang punya duit gede… tukang krupuk gang jugaseorang pengusaha loh.. Keep Moving With Bismillah

  2. ana

    adakah di indonesia yang mengatur regulasi “TRUSTED” Online Store kaya di Luar negri… minimal memberi sertifikat “Bisa di percaya” dan klo bisa ga juga kaya MUI yang pemberian sertifikat halalnya buat yang punya duit gede… tukang krupuk gang jugaseorang pengusaha loh.. Keep Moving With Bismillah

  3. Citra

    Huusshh….jangan su’udzon begitu ahh…
    Silahkan saja si tukang kerupuk gang tsb mengajukan,smg berhasil yaa….btw apa sudh pernah di coba???

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit